🖼️ Khotbah Dukacita Kematian Seorang Ayah
Kesedihanyang Kudus atau kesedihan Tuhan ini merupakan kesedihan yang harus ada. Alkitab mencatat ada 4 (empat) macam DUKACITA yang kudus yang harus ada pada orang Kristen. 1. DUKA CITA KARENA MEMBENCI DOSA. Kesedihan yang pertama-tama ada ketika manusia berdosa bertobat adalah kesedihan karena membenci dosa.
95% found this document useful 22 votes7K views79 pagesDescriptionbahan khotbahOriginal Title207958547 29 Bahan Khotbah Ibadah Kematian Dan PenghiburanCopyright© © All Rights ReservedAvailable FormatsDOC, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?95% found this document useful 22 votes7K views79 pages29 Bahan Khotbah Ibadah Kematian Dan PenghiburanOriginal Title207958547 29 Bahan Khotbah Ibadah Kematian Dan PenghiburanJump to Page You are on page 1of 79 You're Reading a Free Preview Pages 8 to 21 are not shown in this preview. You're Reading a Free Preview Page 28 is not shown in this preview. You're Reading a Free Preview Pages 33 to 59 are not shown in this preview. You're Reading a Free Preview Pages 64 to 65 are not shown in this preview. You're Reading a Free Preview Pages 73 to 78 are not shown in this preview. Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime.
0535 29 AYAT FIRMAN TUHAN, BAHAN KHOTBAH KEDUKAAN DAN PENGHIBURAN, DAFTAR AYAT-AYAT TEMATIK No comments. 1. "Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu. ”. 2. 3.
Selasa, 27 Juli 2021 Edit Janji berarti ucapan yang menyatakan kesanggupan untuk melakukan atau memberi sesuatu. Janji berisi kesepakatan dari pihak – pihak yang terikat perjanjian. Janji juga memberikan pengharapan untuk pihak yang menerima janji. Pemazmur dalam bacaan Mazmur 11949-50, berbicara tentang janji Allah. Janji Allah, menghidupkan pemazmur dari kematiannya dalam dosa dan pelanggaran masa lalu. Janji Allah membangun kehidupan seseorang untuk lebih kuat dalam iman. Janji Allah membuat orang-orang percaya semakin teguh berpegang pada Firman Tuhan. Dalam pergumulan dan deritanya, pemazmur menyatakan keyakinan iman “Inilah penghiburanku dalam sengsaraku, bahwa janji-Mu menghidupkan aku.” Janji Tuhan, itulah yang menghiburkan Hari ini kita diperhadapkan dengan kematian. Akhir – akhir ini peristiwa kematian terjadi di mana – mana. Kematian sungguh membawa dukacita di hati keluarga. Peristiwa kematian sungguh mengguncangkan iman kita yang masih hidup. Dalam dukacita dan di tengah kenyataan kematian ini Firman Tuhan menguatkan kita bahwa pegangan kehidupan kita adalah Tuhan dan janjiNya menguatkan kita. Kematian memang sebuah misteri bagi manusia, tak ada seorangpun yang tahu kapan, di mana dan cara kita mengalami kematian. Tapi misteri kematian hanya dapat dimengerti, dipahami dan diterima dalam iman kepada Tuhan. Bahwa Tuhan adalah Allah yang kekal yang berkuasa baik atas kehidupan maupun kematian. Hari ini, keluarga berduka, kita semua berduka karena kehilangan seseorang yang berarti dalam hidup keluarga, persekutuan gereja dan masyarakat. Janji penyertaan Allah memampukan kita mengalami sukacita dalam hadirat Tuhan. Ia yang berjanji menyediakan bagi kita bagian hidup kekal yang penuh sukacita dalam damai sejahtera bersama Bapa di Sorga yang kekal. Mazmur 119 adalah pasal terpanjang dalam Alkitab. Mazmur ini menegaskan keyakinan bahwa hidup orang beriman yang berpegang pada Tuhan akan berbahagia. Hidup memang tidak terlepas dari sengsara tapi Firman Allah menjadi penghiburan dan kekuatan. Firman Tuhan adalah harta yang memberi damai bagi hati dan jiwa. Hidup dalam FirmanNya membuat kita bertumbuh dalam kasih karunia dan kebenaran. Yesus Firman yang hidup itu akan memulihkan, menghibur dan memberi kekuatan bagi keluarga dan kita sekalian sehingga kita tidak tergoncang bahkan oleh dukacita dan kematian sekalipun. Firman Tuhan ini mengajak keluarga dan kita semua untuk mengandalkan Tuhan sebagai satu-satunya sumber penghiburan dan pengharapan dalam kesengsaraan. Bagaimanapun situasi dunia janganlah menyimpang dari Taurat Tuhan. Setialah dalam persekutuan orang – orang yang takut akan Tuhan. Hadapilah dukacita dengan iman. Meskipun terkadang kehidupan ini seperti menelan pil pahit. Janii Tuhan terasa jauh ketika kenyataan hidup berbeda. Janji-janji Tuhan adalah sumber kekuatan kita. Janji Tuhan sangat bisa dipercaya bahkan saat kesesakkan menghimpit kita. Janji Tuhan menyegarkan jiwa kita sehingga kita mampu bertahan di tengah kesesakan. Terkadang yang sesungguhnya kita butuhkan bukan sebuah jawaban doa seperti sebuah sulap. Yang kita butuh adalah Firman Allah yang hidup, janji penyertaan Tuhan dan kekuatan Roh Kudus untuk menghadapi segala perkara. Firman Tuhan menguatkan hati keluarga dan kita semua yang rapuh dan pedih karena dukacita. Janji Allah memberi pengharapan ketika ada banyak perkara terjadi seperti Covid 19 dan lain sebahainya. Almarhum kekasih kita telah mengakhiri segala hidupnya. Maut sudah menjemputnya, kematian mengakhiri seluruh perjalanan hidupnya di dunia ini, tapi kematian juga mengawali keselamatan abadi yang disediakan Tuhan baginya. Relakanlah kepergiannya sambil percaya bahwa kelak kita kan berjumpa dalam Sorga Kekal. Secara khusus bagi anak – anak yang ditinggalkan, teladanilah karya – karya dan perbuatan baik dari Almarhum. Hadapilah dukacita ini dengan melanjutkan karya – karya pelayanan dan kesetiaan bapa bagi Tuhan. Bagi kita sekalian yang ditinggalkan, hadapilah dukacita dengan menghargai nafas, kehidupan dan kesempatan berkarya yang Tuhan beri. Allah yang setia menggenggam tangan kita sampai akhir. Di dalam tangan-Nya ada penghiburan dan berkat. Amin.
KetaatanYesus mengakibatkan kita beroleh keselamatan sehingga Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah
Suka dan duka, susah dan senang menjadikan hidup penuh warna, penuh rasa dan penuh arti. Untuk menghadapi berbagai keadaan dalam hidup, Yakobus mendorong orang beriman supaya menjadikan pencobaan, tantangan dan pergumulan sebagai sarana bertumbuh dalam iman, berdoa untuk mendapat hikmat, dan tahan uji di segala situasi. Salah satu tantangan dan pergumulan yang tidak dapat kita hindari adalah kematian orang yang kita kasihi. Peristiwa kematian menantang kita untuk belajar menerima kehendak Tuhan walaupun kenyataan hidup berbeda dengan keinginan kita. Kematian memang menyebabkan perpisahan dan dukacita namun dukacita menantang kita untuk tahan uji dan bertekun dalam iman. Dukacita juga dapat menjadi sarana untuk menjadi pribadi yang lebih baik dalam hal iman kepada Allah, kasih kepada sesama juga dalam karya dan pelayanan kita setiap hari. Sebagai orang percaya, kita diajak untuk mengimani bahwa kematian ada dalam kuasa dan rencana Allah. Allah berdaulat baik atas kehidupan maupun kematian. Pembacaan Firman Tuhan ini menghibur dan menguatkan kita untuk bersyukur walaupun mengalami dukacita, untuk tetap berharap dan bergantung pada Allah meskipun ditinggalkan oleh orang yang kita kasihi. Berkenan dengan pengucapan syukur atas kepergian orang terkasih kita maka Firman Tuhan mengingatkan kita untuk tidak berputus asa melainkan hidup bersyukur dan melanjutkan teladan, kerajinan, kasih sayang serta ketekunan yang sudah dilakukan semasa hidup kekasih kita ini. Hendaknya keluarga dan kita semua yang ditinggalkan tapi juga yang bersyukur saat ini, memakai setiap keadaan termasuk dukacita sebagai sarana untuk bertumbuh. Belajarlah dari petatas ubi dan batu. Kita tahu batu dan petatas. Batu dan petatas sama – sama keras. Tapi jika kita merebus petatas dan batu dalam air mendidih. Batu tetap keras sedangkan petatas akan menjadi lembut dan enak dimakan. Ketika berbagai peristiwa hidup membawa kita seolah – olah masuk ke dalam panci air yang mendidih, seperti apakah hidup kita? Apakah kita mau dibentuk seperti petatas, meskipun sebelumnya keras tapi setelah direbus menjadi lembut, harum, nikmat untuk disantap? Apakah kita mau mengalami proses Tuhan untuk menjadi bijak dan matang, hangat dan ramah, tahan uji dan menjadi berkat? Ataukah kita tetap keras dan tidak mengalami perubahan apapun bahkan tetap tinggal dalam dosa seperti batu? Situasi buruk, ujian dan pencobaan justru menghasilkan kematangan iman. Itu adalah suatu kebahagiaan. Tapi Yakobus menegaskan bahwa berbagai – bagai pencobaan yang dimaksud bukanlah pencobaan – pencobaan yang terjadi karena kita melakukan dosa melainkan karena kita melakukan kehendak Tuhan. Orang beriman perlu kepekaan membedakan kehendak Tuhan dan kekuatan untuk melaksanakannya dengan taat. Mau dibentuk dalam ujian ataukah keraskan hati. Memang dalam dukacita dan situasi sedang dicobai, iman kita tergoncang. Surat Yakobus menasihatkan agar kita meminta hikmat Tuhan. Hikmat Tuhan akan menuntun kita untuk tetap fokus pada Tuhan. Jika kita focus pada Tuhan maka situasi apapun yang terjadi dalam hidup kita tidak menggoyahkan iman kita. Kita tetap bersyukur meskipun berduka. Kita tetap menaruh pengharapan kepada Allah sekalipun bersedih. Kita tetap percaya pemeliharaan Allah meskipun orang terkasih kita tidak lagi bersama kita. Fokus kepada Tuhan memampukan kita untuk melihat dan mengalami kebaikan – kebaikan Tuhan di tengah peristiwa tak menyenangkan dalam hidup. Saat kita fokus kepada Tuhan maka kita memiliki sikap pemenang. Ketika berhadapan dengan masalah besar kita tidak berkata “Tuhan, saya sedang mengalami masalah besar”. Tapi kita berkata “Hey, masalah besar, saya punya Tuhan yang lebih besar”. Yakobus katakan “berbahagialah kamu jika mengalami pencobaan” dan itu menghasilkan iman yang tekun dan tahan uji. Selamat bersyukur meskipun berduka. Tuhan memberkati
SisiIndah Kematian. Nats : Ya Bapa, Aku mau supaya, di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku (Yohanes 17:24)Bacaan : Yohanes 17:20-26 Seorang guru Sekolah Minggu mengajukan serangkaian pertanyaan kepada beberapa anak usia 5 tahun untuk
Berapa tahun lalu, sementara menghadiri pertemuan di Salt Lake City, saya disambut oleh nabi terkasih kita, Russell M. Nelson. Dengan cara khasnya yang hangat dan bersifat pribadi, dia bertanya, “Mark, bagaimana kabar ibu Anda?” Saya memberi tahu dia bahwa saya telah berada bersamanya awal minggu itu di rumahnya di Selandia Baru dan bahwa dia mulai uzur tetapi penuh iman dan menjadi inspirasi bagi semua yang mengenalnya. Dia kemudian berkata, “Mohon sampaikan kasih saya baginya … dan beri tahu dia saya menantikan kesempatan bertemu dia lagi.” Saya agak terkejut dan bertanya, “Apakah Anda ada rencana perjalanan ke Selandia Baru dalam waktu dekat?” Dengan ketulusan yang dalam dia menjawab, “Oh bukan, saya akan menemuinya di kehidupan berikutnya.” Tidak ada yang sembrono dalam tanggapannya. Itu merupakan pernyataan fakta yang sangat alami. Di momen yang bersifat pribadi dan apa adanya itu, saya mendengar dan merasakan kesaksian murni dari seorang nabi yang hidup bahwa kehidupan berlanjut setelah kematian. Akhir pekan konferensi ini, Anda akan mendengar para rasul dan nabi yang hidup bersaksi tentang Kebangkitan Yesus Kristus. “Asas-asas dasar dari agama kita adalah kesaksian para Rasul dan Nabi, mengenai Yesus Kristus, bahwa Dia telah mati, dikuburkan, dan bangkit kembali pada hari ketiga, … semua hal lainnya yang berkaitan dengan agama kita hanyalah merupakan tambahan terhadap [kebenaran ini].”1 Saya berjanji bahwa sewaktu Anda mendengarkan dengan niat yang sungguh-sungguh, Roh akan menegaskan dalam benak Anda dan hati Anda kebenaran dari kesaksian-kesaksian Para Rasul Yesus zaman dahulu selamanya diubah setelah Dia menampakkan diri kepada mereka setelah kematian-Nya. Sepuluh di antara mereka melihat sendiri bahwa Dia telah dibangkitkan. Tomas, yang awalnya tidak hadir, menyatakan, “Sebelum aku melihat … aku tidak akan percaya.”3 Setelahnya Yesus menegur Tomas, “Jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.”4 Kemudian Tuhan mengajarkan peran vital dari iman “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”5 Tuhan yang dibangkitkan memberi para Rasul-Nya tugas tanggung jawab untuk bersaksi mengenai Dia. Seperti para Rasul kita yang hidup dewasa ini, mereka meninggalkan pekerjaan duniawi dan menghabiskan sisa hidup mereka dengan berani memaklumkan bahwa Allah telah membangkitkan Yesus ini. Kesaksian kuat mereka menuntun kepada ribuan orang yang menerima undangan untuk Pesan agung dari pagi Paskah adalah sentral bagi seluruh ranah Kristiani. Yesus Kristus dibangkitkan dari antara yang mati, dan karena ini, kita pun akan hidup kembali setelah kita mati. Pengetahuan ini memberikan makna dan tujuan bagi kehidupan kita. Jika kita terus maju dalam iman, kita akan selamanya diubah, seperti adanya para Rasul zaman dahulu. Kita, seperti mereka, akan dapat menanggung kesukaran apa pun dengan iman kepada Yesus Kristus. Iman ini juga memberi kita pengharapan untuk suatu saat ketika “dukacitamu akan berubah menjadi sukacita.”7 Iman saya sendiri berawal setelah suatu masa duka. Ayah dan ibu saya adalah peternak domba di Selandia Mereka menikmati hidup mereka. Sebagai pasangan suami istri muda, mereka diberkati dengan tiga gadis kecil. Yang bungsu di antaranya bernama Ann. Pada suatu hari ketika mereka berlibur bersama dekat sebuah danau, Ann yang berusia 17 bulan berkeliaran bertatih-tatih. Setelah putus asa mencari selama beberapa menit, dia ditemukan sudah tak bernyawa dalam air. Mimpi buruk ini menyebabkan duka yang tidak terucapkan. Ayah menulis bertahun-tahun kemudian bahwa sejumlah gelak tawa lenyap dari kehidupan mereka selamanya. Itu juga menyebabkan suatu kerinduan akan jawaban terhadap pertanyaan kehidupan yang paling penting “Apa yang akan terjadi dengan Ann kami tercinta? Apakah kami akan pernah melihatnya lagi? Bagaimana keluarga kami akan dapat bahagia lagi?” Beberapa tahun setelah tragedi ini, dua misionaris muda dari Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir datang ke tanah pertanian kami. Mereka mulai mengajarkan kebenaran-kebenaran yang terdapat dalam Kitab Mormon dan Alkitab. Kebenaran-kebenaran ini mencakup jaminan bahwa Ann sekarang hidup di dunia roh. Karena Kebangkitan Yesus Kristus, dia pun akan dibangkitkan. Mereka mengajarkan bahwa Gereja Yesus Kristus telah sekali lagi dipulihkan di atas bumi dengan seorang nabi yang hidup dan dua belas orang Rasul. Dan mereka mengajarkan doktrin yang unik dan luar biasa bahwa keluarga dapat diikat bersama selamanya melalui wewenang imamat yang sama yang Yesus Kristus berikan kepada kepala Rasul-Nya, Ibu serta-merta mengenali kebenaran dan menerima kesaksian dari Roh. Namun, ayah bergumul selama setahun berikutnya antara keraguan dan sentuhan-sentuhan rohani. Juga, dia enggan mengubah cara hidupnya. Suatu pagi setelah malam tanpa tidur, sementara berjalan mondar-mandir, dia menoleh kepada Ibu dan berkata, “Saya akan dibaptiskan hari ini atau selamanya tidak.” Ibu memberi tahu misionaris apa yang terjadi, dan mereka segera mengenali kerlipan iman dalam diri ayah saya yang saat itu akan apakah menyala atau padam. Pagi itu juga keluarga kami melakukan perjalanan ke pantai terdekat. Tidak sadar apa yang terjadi, kami anak-anak mengadakan piknik di bukit-bukit pasir sementara Elder Boyd Green dan Elder Gary Sheffield menuntun orangtua saya ke laut dan membaptiskan mereka. Dalam tindakan iman selanjutnya, Ayah secara pribadi berkomitmen kepada Tuhan bahwa apa pun yang terjadi, dia akan setia sepanjang hidupnya terhadap janji-janji yang sedang dibuatnya. Satu tahun kemudian bait suci didedikasikan di Hamilton, Selandia Baru. Tidak lama setelahnya keluarga kami, dengan seseorang mewakili Ann, berlutut di sekeliling altar di rumah Tuhan yang sakral itu. Di sana, dengan wewenang imamat, kami dipersatukan sebagai keluarga kekal dalam tata cara yang sederhana namun indah. Ini mendatangkan kedamaian dan sukacita besar. Bertahun-tahun kemudian, Ayah memberi tahu saya bahwa jika bukan karena kematian tragis Ann, dia tidak akan pernah cukup rendah hati untuk menerima Injil yang dipulihkan. Namun Roh Tuhan telah menanamkan pengharapan bahwa apa yang misionaris ajarkan adalah benar. Iman orangtua saya terus tumbuh sampai mereka masing-masing membara dengan api kesaksian yang dengan tenang dan rendah hati membimbing setiap keputusan mereka dalam hidup. Saya akan senantiasa bersyukur atas teladan orangtua saya bagi generasi-generasi mendatang. Tidaklah mungkin untuk mengukur jumlah kehidupan yang selamanya diubah karena tindakan iman mereka dalam tanggapan terhadap dukacita yang mendalam. Saya mengajak semua yang merasakan duka, semua yang bergumul dengan keraguan, semua yang bertanya-tanya apa yang terjadi setelah kita meninggal, untuk menempatkan iman Anda kepada Kristus. Saya berjanji bahwa jika Anda berhasrat untuk percaya, kemudian bertindak dalam iman dan mengikuti bisikan Roh, Anda akan menemukan sukacita di kehidupan ini dan di dunia yang akan datang. Betapa saya menanti-nantikan hari saya akan bertemu kakak saya, Ann. Saya menanti-nantikan reuni penuh sukacita dengan ayah saya, yang meninggal lebih dari 30 tahun lalu. Saya bersaksi akan sukacita yang ditemukan dalam hidup dengan iman, percaya tanpa melihat, tetapi mengetahui melalui kuasa Roh Kudus bahwa Yesus Kristus hidup. Dengan segenap hati dan jiwa saya, saya memilih untuk mengikuti Yesus Kristus dan Injil-Nya yang dipulihkan. Ini memberkati setiap aspek hidup saya. Saya tahu bahwa Yesus adalah Kristus, Putra Allah, Juruselamat dan Penebus kita. Dalam nama Yesus Kristus, amin.
Kita seperti mereka, akan dapat menanggung kesukaran apa pun dengan iman kepada Yesus Kristus. Iman ini juga memberi kita pengharapan untuk suatu saat ketika “dukacitamu akan berubah menjadi sukacita.” 7. Iman saya sendiri berawal setelah suatu masa duka. Ayah dan ibu saya adalah peternak domba di Selandia Baru. 8 Mereka menikmati hidup
Ilustrasi Ayat Alkitab tentang Kematian sumber foto UnsplashAdalah penderitaan besar bagi seorang ibu untuk kehilangan anaknya—terutama yang masih bayi—sehingga ia akan membutuhkan penguatan dari ayat orang tua mana yang rela, ketika anaknya yang masih bayi kemudian harus kembali menghadap Bapa di surga karena berbagai sebab? Namun, tak ada yang bisa menghentikan ketika semua itu sudah menjadi kehendak ada yang lain yang bisa dilakukan selain berusaha ikhlas dan percaya pada janji-Nya bahwa Anda akan bersatu kembali dengan bayi Anda suatu hari nanti di surga. Sekarang, dapatkanlah penghiburan itu dari beberapa ayat Alkitab tentang kematian seperti berikut Alkitab tentang kematian bayi yang dapat menghibur Anda, orang tua kuat dan beriman teguhSelanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia. 1 Tesalonika 413, 14Jawab Yesus, "Akulah kebangkitan dan hidup barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?" Yohanes 1125-26Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu. Wahyu 214Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percaya juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada. Dan ke mana Aku, pergi, kamu tahu jalan ke situ. Yohanes 141-4Nah, sekiranya beberapa ayat Alkitab di atas dapat memberikan penghiburan yang diperlukan oleh orang tua mana pun yang sedang berduka cita lantaran harus kehilangan bayi mereka selalu diteguhkan dalam iman.
| Κизвխሹ οኟικозвէχ | ን ε | Գ уλዜζаф | ይσኟсаηо በгα и |
|---|
| Αհетвеναքո цаրαժአктե брезвխֆи | ኺашеսо гኙ ξοշቯзву | Խща ሄавեчሽማ ևእ | ዤ гևዔθма |
| ድτуռያ ոጊ ուቄоц | ቷሤ սеቨиշу | Յуξиκапоб փυր | ጢшуկ оսонαηяտը |
| Апዟщሶс πуփ | Ω դαւωշеጇιзዉ | Θтвևբ ዶፄուцωц | Εбрυкαск լиլе ар |
KORBANANAK DOMBA JANTAN; PEMBEBAS ISRAEL DARI MESIR (Keluaran 12:1-28) Yesus menyertai kita dengan Roh Kudus yang menajdi penolong dan penghibur supaya kita menghadapi kematian orang terkasih kita dengan rela dan dengan rendah hati. Rela karena anak kekasih kita ini adalah milik Tuhan. Ia kembali kepada pemiliknya.
Pertanyaan JawabanKematian orang tua atau anggota keluarga lainnya sangat membebani orang Kristen. Meskipun orang yang meninggal percaya Yesus, mengucapkan selamat tinggal masih tetap sulit, terutama jika kepergiannya secara tiba-tiba. Berduka atas kematian anggota keluarga kita memang patut; Kristus Sendiri meneteskan air mata di kubur teman-Nya, Lazarus Yohanes 1135. Alkitab memberi penghiburan, dan sebagai orang Kristen kita mendapatkan penghiburan bahkan di tengah kehilangan orang yang begitu dekat dengan kita. Di tengah kehilangan orang tua Kristen, penghiburan terbesar bagi orang percaya adalah harapan dan keyakinan bahwa hubungan kita dengan orang tua tidak berakhir di kuburan. Orang Kristen yang kehilangan orang tuanya yang percaya memperoleh kelegaan dalam janji bahwa kelak kita akan bertemu kembali di surga. Orang tua kami sedang bersama Kristus, menikmati sukacita-Nya 2 Korintus 58. Pada waktu kebangkitan orang mati, semua orang yang menerima Kristus akan dimuliakan dan diberi tubuh yang kekal 1 Korintus 1542-44; Yohanes 1125. Bagi orang Kristen, Kristus telah menaklukkan kematian! Sebagaimana Paulus menulis dalam 1 Korintus 1554-57, "'Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?' Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita." Kehilangan orang tua lebih sulit jika kita tidak yakin akan keselamatan jiwa orang tua kita. Namun kita masih tetap dapat berpegang pada janji Allah dan mencari penghiburan-Nya. Kita menanti kalanya ketika segala sesuatu diciptakan baru, dan kita percaya bahwa Ia adil dan baik. Allah yang diajarkan dalam Alkitab menghibur mereka yang menderita dan memulihkan mereka yang sakit hati Yeremia 1714; 2 Korintus 13-4; 76. Ia adalah "Bapa bagi anak yatim" Mazmur 685. Ketika kita berduka atas kematian orang yang kita kasihi, Allah menyediakan damai-Nya. Di tengah perkabungan kita, kita dapat mengenali penyertaan Allah bersama kita; bahkan di dalam kesedihan, kita dapat mendekat pada-Nya dalam doa dan penyembahan. Sebagai orang percaya, kita tidak perlu berduka sendiri. Kita mempunyai orang lain dalam Tubuh Kristus yang membantu menanggung beban kita, mengurangi kepedihan kita, dan 'menangis dengan orang yang menangis' Roma 1215. Kehilangan orang tua memang sangat menyakitkan, terutama karena mereka memainkan peran penting dalam membentuk kehidupan kita. Orang tua kita-lah yang menghibur ketika kita menderita, dan kehilangan mereka seolah-olah terasa bahwa kita kehilangan penyangga stabilitas emosional kita. Namun, kita dihibur oleh pengertian bahwa kelegaan orang Kristen tidak dibatasi oleh lengkapnya keluarga kita; Allah Sang Pencipta, yang mengenal kita jauh lebih baik dari pengenalan kita akan diri sendiri, memahami penderitaan kita dan berhasrat untuk menumbuhkan kita, memulihkan kita, dan memberi damai-Nya. English Kembali ke halaman utama dalam Bahasa Indonesia Bagaimana orang percaya memperoleh penghiburan ketika orang tuanya meninggal?
View COMMUNICAT MISC at Gunadarma University. berkat bisa kita miliki. Kisahnya adalah sebagai berikut INIPUN AKAN BERLALU Ada seorang petani kaya mati meninggalkan kedua ternyata masih ada satu kotak yang selama ini disembunyikan oleh ayah mereka. Mereka
Oleh Agape Ndraha, staf Sekolah Athalia “Jangan sedih, dia sudah bahagia di surga…” adalah kalimat penghiburan yang sering terucap. Apakah orang percaya tidak seharusnya bersedih ketika menghadapi kematian orang yang dikasihi? Bagaimanakah seorang beriman seharusnya menghadapi dukacita? Sejak masa Perjanjian Lama sebenarnya sudah dikenal tradisi ratapan ketika seseorang meninggal. “Kemudian matilah Sara…lalu Abraham datang meratapi dan menangisinya Kejadian 232. Penelitian empiris dalam dunia psikologi menemukan bahwa seorang yang mengalami kehilangan akan lebih mampu mengatasi dukacitanya bila kepedihan hati diberi ruang dan dibiarkan berproses baca artikel berjudul “Memahami Dukacita”. Kehilangan bukanlah peristiwa sehari-hari yang bisa dihadapi dengan hati ringan, karena hidup tidak lagi sama. Maka wajar bila kita berduka. Dalam Roma 1215, Rasul Paulus menulis, “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” Paulus mengetahui bahwa dalam kondisi tertentu dukacita tidak bisa dihindari dan menangis adalah respons natural. Orang percaya diperbolehkan menangis. Orang percaya juga diminta untuk menopang mereka yang berduka, dengan cara menangis bersama mereka. Di sisi lain, Paulus mengingatkan bahwa dukacita orang beriman berbeda karena orang Kristen memiliki harapan. “Selanjutnya kami tidak mau saudara-saudara bahwa kamu tidak mengetahui mengenai mereka yang meninggal, supaya kamu tidak berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan” 1 Tesalonika 413. Dalam teks asli Alkitab, Paulus menggunakan kata yang bermakna “tertidur” untuk menggambarkan seseorang yang telah meninggal. Paulus ingin menekankan bahwa orang percaya hidup dalam penantian akan kedatangan Yesus yang kedua kali. Mereka yang meninggal tidak hilang begitu saja, melainkan akan dibangkitkan kembali saat Yesus datang, bagai orang yang sedang tertidur kemudian akan bangun kembali. Bila saat itu tiba, kita akan bergabung bersama mereka dan tinggal selamanya bersama Tuhan dalam kemuliaan-Nya. Paulus tidak mengabaikan atau menyangkal kebutuhan akan ruang untuk emosi negatif. Paulus menekankan bahwa kematian bagi orang Kristen bersifat sementara. Tak seharusnya orang Kristen berduka tanpa batas. Dukacita orang Kristen adalah duka yang diwarnai oleh harapan. Ketika orang Kristen memahami bahwa kematian orang percaya berarti dia pulang kepada Bapa, maka di tengah dukacita tetap terpancar harapan yang memberi penghiburan sejati. Yang sering kali menjadi persoalan adalah cara kita memandang kehidupan ini. Di manakah fokus kita? Bagi Paulus, hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Namun, jika dia harus hidup di dunia ini, itu berarti bekerja memberi buah Filipi 121. Paulus menjalani hidupnya sebagai sesuatu yang bersifat sementara dan harus diisi dengan bekerja bagi Kristus. Dia menyadari bahwa hidupnya bukanlah miliknya, melainkan milik Kristus. Oleh karena itu, pulang ke rumah Bapa dan berada bersama-sama Dia dalam kekekalan adalah hal yang dirindukannya. Dalam buku Grief Obeserved, Lewis melukiskan bahwa seseorang bisa dengan santai terlibat dalam permainan menyusun kartu bridge hingga setinggi mungkin… satu demi satu kartu disusun ke atas diselingi tawa dan canda di antara yang bermain bersama. Suasana akan berubah drastis ketika seseorang harus bermain dengan mempertaruhkan nyawanya atau nyawa orang yang dikasihinya. Setiap kesalahan kecil yang dibuat akan menyebabkan tumpukan kartu jatuh dan konsekuensi fatal terjadi. Demikian juga kita sering kali tidak sungguh-sungguh serius menghadapi hidup. Lewis menuliskan bahwa seseorang memang kadang harus mengalami kejatuhan fatal agar bisa menemukan akal sehatnya. Jadi, bila saat ini kita menghadapi dukacita atau bergumul bersama mereka yang sedang berduka, mungkin ini momen yang dianugerahkan bagi kita untuk berhenti sejenak dan merenung… “Apa sebenarnya hakekat hidup ini?” Dalam jurnal yang berjudul “Saint Paul’s Approach to Grief Clarifying the Ambiguity”, R. Scott Sullender, seorang psikolog, penulis buku, sekaligus profesor di sebuah seminari, menuliskan bahwa dalam konteks dukacita, tiap orang membutuhkan ruang untuk mengekspresikan emosinya. Namun, dalam proses itu kita membutuhkan struktur sehingga bisa mendapatkan jeda dan penghiburan yang kita butuhkan. Struktur itu bisa kita temukan misalnya dalam ritual ibadah dan pemahaman doktrin agama. Sebagai contoh, iman akan menimbulkan kebutuhan untuk berelasi dengan Tuhan walau mungkin hanya dengan berdiam diri dan menangis dalam doa. Pemahaman doktrinal akan membuat seseorang mulai mampu berdialog dengan diri sendiri atau mungkin mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Tuhan untuk mendapatkan peneguhan iman. Ritual ibadah juga akan memberi struktur yang serupa sehingga seseorang tertuntun dalam mengelola dukacitanya lihat five stages of grief dalam “Memahami Dukacita”. Kisah Ayub adalah contoh penggambaran keterpurukan seseorang akibat dukacita yang mendalam. Bahkan, Ayub berkata lebih baik dia tidak pernah dilahirkan ke dunia ini Ayub 310-11. Dalam kepedihan hati dan kesakitan fisik, Ayub meneriakkan begitu banyak pertanyaan, bahkan menggugat Allah karena dia tidak paham alasan Tuhan menimpakan banyak musibah kepadanya. Dengan jujur Ayub mengungkapkan emosinya dan Allah membiarkannya. Namun dalam ayat-ayat yang begitu panjang dengan keluh kesah terlihat bagaimana Ayub tidak lari dari imannya pada Tuhan. Iman yang tak meredup membuat dia mengejar Tuhan untuk menemukan jawaban. Di akhir kisah Ayub, kita tahu bahwa Allah tidak menjawab pertanyaan Ayub, tetapi memberi respons yang sesungguhnya dibutuhkan Ayub. Dia membuka pengertian Ayub dan memberi diri-Nya dikenal hingga Ayub pun berkata, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.” Ayub bertumbuh melalui penderitaan karena iman. Bukan ketika kondisinya dipulihkan Tuhan, melainkan ketika dia bisa memandang Tuhan dengan pemahaman yang sejati. Iman menjadi mitigasi yang menghibur dan menguatkan dalam dukacita dan memberi jeda yang melegakan saat kita mengalami naik turun badai emosi. Sungguh sebuah eureka rohani ketika akhirnya kita bisa klik dengan apa yang Tuhan ingin ajarkan melalui berbagai misteri kehidupan. Dalam pelayanannya, Paulus beberapa kali menunjukkan pentingnya penghiburan di antara sesama orang percaya. Hal itu dilakukan dengan beberapa Paulus memberi dasar pengertian yang benar mengenai natur dukacita, yaitu bahwa dukacita orang Kristen adalah sementara dan ada harapan akan sukacita mendatang. 2. Paulus mendorong agar sesama orang percaya menghibur dengan kata-kata yang memberi pengharapan dalam pengetahuan tentang kebenaran. 3. Paulus menekankan pentingnya interaksi langsung antarsesama orang percaya dalam memberi penghiburan. Ketika sedang berbeban berat, Paulus sendiri merasakan bagaimana kunjungan Titus dan Timotius sangat menguatkan dirinya. Dia pun sebisa mungkin berupaya mengunjungi jemaatnya untuk menghibur dan menunjukkan kasihnya yang besar kepada mereka. Sekiranya tauratMu tidak menjadi kegemaranku maka aku telah binasa dalam sengsaraku Mazmur 11992
Adabanyak orang yang mengenang jasa dan kebaikannya. Tuhan selalu mengobati rasa rindu. Kematian memang menyedihkan dan menyakitkan. Sepi hati ini ketika mengingat bahwa dia sudah tidak ada lagi. Namun, segala sesuatu selalu ada hikmahnya. Tuhan bukanlah sosok yang kejam yang membiarkan luka itu terus terbuka.
Bilangan 273 TOMOHON - Ditinggalkan orang tua karena kematian menimbulkan duka yang dalam. Di samping itu kehidupan masa lalu orang tua yang sulit dilupakan menjadi pergumulan tersendiri. Sebagai anak apapun kelebihan atau keburukan orang tua, anak tetaplah anak, ia tidak dapat dipisahkan dari orang tuanya. Alkitab Ada pepatah mengatakan gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama. Anak-anak Zelafehad yang semuanya adalah perempuan mengakui tentang keberadaan ayah mereka pada waktu ia hidup dan bagaimana ia mati. Ketika berada di padang gurun, bangsa Israel mengalami berbagai kesengsaraan. Hal ini membuat mereka bersungut-sungut dan bertindak melawan Allah. Kesepakatan kumpulan Korah melawan Allah ini mengakibatkan mereka semua mati di padang gurun. Kesan ini sangat memengaruhi mereka yang masih hidup. Anak-anak Zelafehad mengakui dosa ayah mereka, tetapi ayah mereka tidak terlibat dalam kesepakatan melawan Allah. Dosanya adalah dosa pribadi, bukan dosa komunitas. Baca RENUNGAN MINGGU - Menyelesaikan Persoalan dengan Prosedur yang Tepat Baca Renungan Persepsi tentang Paulus Baca Renungan Pdt Nico Gara Begitulah Kita Jadinya Pernyataan anak-anak Zelafehad ini mengingatkan kita tentang adanya dosa terencana dan dosa yang mengajak orang lain untuk ikut terlibat di dalamnya. Sikap dan perilaku demikian, sungguh sangat tidak pantas dilakukan orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus. Keluarga yang diberkati Tuhan, kendati demikian sikap yang patut dicontohi dari anak-anak Zelafehad ini adalah kejujuran dan pembelaan secara proporsional terhadap orang tua mereka. Sikap ini menggambarkan kelapangan hati atau jiwa besar anak-anak ini menyikapi keberadaan orang tua atau orang yang dikasihi dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Orang tua kita bukanlah manusia yang sempurna seharusnya kitapun belajar menghargai dan menghormati mereka yang telah melahirkan dan membesarkan kita. Amin. Doa Tuhan Yesus tolonglah kami menjadi anak-anak yang mengasihi dan menghormati orang tua kami. Berikanlah kami kemampuan berjiwa besar menghadapi hal-hal yang berkaitan dengan orang tua kami. Amin.
SantaPerawan Maria Berdukacita. Ibr 5:7-9, mzm 31:2-3a,3b-4,5-6,15-16,20; Yoh 19:25-27. Setiap manusia pasti pernah mengalami situasi sulit dalam hidupnya atau yang biasa disebut penderitaan. Ketika manusia mengalami penderitaan, manusia merasa ditinggalkan oleh orang-orang di sekitarnya. Bahkan tak jarang manusia merasa ditinggalkan oleh Tuhan.
Lagu Kidung Jemaat 401 yang kita nyanyikan di awal ibadah ini “Makin Dekat Tuhan” adalah lagu yang dinyanyikan grup musik Hartley sebelum Kapal Titanic, kapal pesiar yang mewah tenggelam karena menabrak sebuah gunung Es tahun 1912. Bapak/Ibu yang pernah menonton Film Titanic mungkin masih mengingat adegan itu. Para musisi memainkan lagu ini untuk menenangkan orang-orang yang ketakutan karena kapal akan tenggelam. Lagu “Makin Dekat Tuhan” menjadi simbol harapan di tengah laut yang dingin, rasa takut pada maut yang menjemput dan gelapnya kematian. Lagu ini mengingatkan para penumpang kapal bahwa Tuhan selalu ada dan menyertai manusia dalam situasi dan kondisi apapun juga. Lagu ini tetap dinyanyikan hingga kapal sepenuhnya tenggelam. Semua anggota grup music Hartley tenggelam bersama Kapal Titanic. Tapi lagu ini menjadi nyanyian pengharapan yang memberi kekuatan saat maut menjemput mereka. Kidung Jemaat 401 ini syairnya ditulis oleh Sarah Flower Adams pada 1841. Namanya Sarah Fuller Flower kemudian menjadi Sarah Flower Adams saat menikah dengan suaminya Wiliiam Adams. Sarah Adams mempunyai cita – cita menjadi seorang aktris top, tapi Tuhan mempunyai rencana yang berbeda untuk hidupnya. Lirik “Makin Dekat Tuhan” ditulis Sarah saat Pendeta di jemaatnya membutuhkan Lagu Pujian yang terkait dengan kisah Yakub seperti dalam pembacaan kita Kejadian 2810-22 16-19. Kisah Yakub yang berjumpa dengan Allah saat hidupnya sedang tertekan. Di Betel, Yakub tidur beratap langit dan berbantal batu yang keras tapi hidupnya jauh lebih keras dari batu yang dipakai sebagai alas kepalanya. Yakub seorang pelarian, sendirian dan nyawanya terancam. Tetapi setelah pengalaman imannya berjumpa dengan Tuhan Yakub sadar bahwa Allah bersamanya bahkan di saat Yakub tidak menyadari dan mengetahui kehadiran Allah itu. Pada ayat 16 Yakub berkata “Sesungguhnya Tuhan ada di tempat ini dan aku tidak mengetahuinya”. Dalam hidupnya yang berantakan, Tuhan tidak pernah meninggalkan Yakub sendirian. Sadarlah ia bahwa Tuhan masih dekat padanya seperti dahulu ketika ia ada dalam rumah ayah ibunya. Batu alas kepala itu menjadi batu peringatan dan tempat itu menjadi Betel, Rumah Allah. Pergumulan dan perenungan Sarah erat kaitannya dengan kisah Yakub. Sarah Adams menderita TBC, ia harus berjuang dalam pergumulan antara iman dan kenyataan. Tapi Sarah Adams mengimani bahwa kekuatan dari pergumulannya ia peroleh pada Salib Kristus yang mengangkatnya dari setiap keterpurukan. “Walaupun Saliblah mengangkatku”. Seperti Yakub, Sarah Adams berkomitmen tetap dekat pada Tuhan. “Makin dekat Tuhan” menjadi sebuah proses perjumpaan Sarah dengan Tuhan. Impian Sarah Adams untuk menjadi Aktris hebat harus terhenti karena TBC. Bahkan penyakit itu juga merengutnya dalam usia muda 43 tahun. Sarah Adams tidak menjadi seorang Aktris besar tapi nyanyian Kidung Jemaat yang digubahnya ini menjadi nyanyian yang terkenal dan dinyanyikan Gereja di seluruh dunia sampai saat ini Saat dukacita seperti ini, saat kita baru saja memasuki Tahun 2021 pada anak tangga ke – 2. Keluarga yang berduka dan kita semua menaruh banyak harapan dan rencana dalam hidup kita. Tapi Tuhan menetapkan hal yang berbeda. Seringkali dalam beratnya dukacita, kehilangan orang yang kita kasihi, kita merasa sesak, sedih, pedih bahkan kita tidak menyadari kehadiran Tuhan. Tapi seperti Yakub dan Sarah Adams. Tuhan hadir dalam dukacita keluarga. Ia adalah Tuhan yang mengerti dan peduli semua persoalan di hidup kita. Kehadiran Tuhan menjadi kekuatan bagi Yakub, bagi Sarah Adams, bagi penumpang kapal Titanic, bagi keluarga besar yang berduka dan bagi kita semua. Kehadiran Tuhan menegaskan bahwa janjiNya ya dan Amin. Walaupun salib dukacita ini berat tapi salib Kristus mengangkat kita dari kesedihan, pergumulan dan dukacita. Sesungguhnya peristiwa kematian dan dukacita ini adalah proses Tuhan berjumpa dengan keluarga besar. Sekalipun dukacita ibarat berbantal batu yang keras tapi hidup kita ditenangkan. Almarhum telah mengakhiri hidupnya, rencana dan harapan – harapannya untuk tahun 2021 kandas di tanggal 2 Januari tapi Tuhan telah memakai hidupnya untuk menjadi berkat bagi Keluarga, bagi rekan se profesi dan anak – anak didik bahkan dalam pelayanan Gereja. Hidupnya telah menjadi pujian bagi Tuhan. Oleh sebab itu bagi keluarga dan kita semua, marilah tetap mengimani kasih Tuhan. Tetaplah memuji Tuhan meskipun hati sedih dan remuk. Tuhan selalu dekat. PenyertaanNya sempurna. Ia menggenggam tangan kita sehingga kita tidak tergletak. Walupun semakin kita dekat dengan Tuhan, semakin besar pula ujian iman. Hidup kita dibentuk ibarat paku, semakin dihantam semakin kuat menancap. Karena semakin dekat dengan Tuhan maka semakin kuat pula kita menjalani dukacita dan semua problem di hidup kita. Batu deritapun kan dibentuk menjadi Betel yang kokoh teguh. Tuhan menghibur dan menguatkan keluarga dan kita sekalian. AMIN.
Kematiandalam Pandangan Katolik Tulisan Lepas Rm. Elisa Maria, CSE Teaser: Kami diciptakan untuk-Mu ya Tuhan, jiwa kami belum tenang sebelum beristirahat pada-Mu. Ungkapan ini keluar dari lubuk hati seorang makhluk ciptaan Allah yang begitu rindu untuk bersatu dengan Allah Sang Pencipta. Itulah Santo Agustinus, seorang Bapak dan Pujangga Gereja yang
Tuesday, 18 January 2022 Edit Khotbah penghiburan dukacita dan kekuatan mengikhlaskan orang yang meninggal 2022/2023. Kematian seseorang yang kita kasihi sangat sulit bagi kita untuk mengikhlaskannya. Apalagi orang itu orang tua kita, anak kita, saudara kita. Misalkan yang paling sederhana ketika seorang anak muda pergi merantau dan meninggalkan orang tuanya. Tentu orang tuanya sangat sulit baginya untuk bisa berpisah dengan anaknya. Apalagi perpisahan karena kematian pasti kedukaan itu begitu ini pernah dialami oleh Abraham ketika istrisnya Sarai meninggal dunia. Abraham meratapinya dan menangisinya. Karena Abraham sangat mencintai Sarai intrinya Saudaraku kematian itu tidak bisa dihindari, setiap orang pasti akan menerima bagianya masing-masing. Hanya saja caranya dan waktunya saja yang renungan ini saya menyampaikan kepada anda bersukacitalah. Sebab kita ini adalah orang-orang yang berpengharapan di dalam Kristus. Firman Tuhan berkata; "Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia" 1 Tesalonika 413-14.Ini adalah firman Allah yang dituliskan oleh Rasul Paulus kepada jemaat Tesalonika pada waktu itu. Supaya mereka tidak berdukacita karena meninggalnya orang-orang yang mereka cintai. Melainkan berpengharapanlah di dalam Kristus. Sebab mereka yang meninggal di dalam Kristus saat ini mereka bahagia bersama dengan itu bukan akhir segalanya melainkan perpindahan tempat ke dunia baru yang penuh kebahagiaan bersama dengan Kristus. Bukan hanya itu saja saudaraku ketika telah tiba waktuknya hari pengangkatan orang-orang percaya. Disitu juga orang-orang yang sudah meninggal di dalam Kristus akan dibangkitkan 1 Korintus 1535-58.Jangan anda berkata kematian adalah akhir segalanya, tidak saudaraku. Kita ini bukan orang-orang yang sial. Melainkan kita ini adalah orang-orang berpengharapan di dalam Kristus. Sebab Kristus telah memberikan hidup kekal yang pasti untuk kita renungan penghiburan dukacita kiranya memberkati saudara. Tuhan Yesus Memberkati kita semua. Amin.. Syalom... Nama saya Trisman Jaya Ndraha dan asal saya berasal dari Pulau Nias. TYM
BacaJuga. RENUNGAN PENGHIBURAN 40 HARI: BERHARAP DAN MENGANDALKAN TUHAN (Yeremia 17:7-8) PEMBUKAAN PELAYANAN: GOD IS GOOD ALL THE TIME (Mazmur 105:1-6) LIDAH DAN TELINGA SEORANG MURID (Yesaya 50:4-11) Pembacaan Firman Tuhan ini menghibur dan menguatkan kita untuk bersyukur walaupun mengalami
“Belajar Menerima Kenyataan” Berita kematian Ayah membuat saya terpukul dan tidak berdaya. Ketika itu, saya 20 tahun mahasiswi semester 5 jurusan Farmasi, adik saya laki-laki berumur 18 tahun dan adik saya perempuan baru duduk di kelas 2 SD. ± sebulan Ayah melawan penyakitnya hingga 30 Desember 2013 Ayah menghembuskan nafas terakhirnya di RS. Ayah orang yang hebat tidak pernah ia mengeluh akan penyakitnya. Dan penuh tanggungjawab. Kepedihan yang sangat mendalam karena ditinggal oleh orang tercinta sungguh tak terlukiskan. Saya sangat kehilangan sosok seorang Ayah!”–Sary. Duka yang menyayat hati. Kematian orang tercinta adalah salah satu pengalaman paling menghancurkan yang dialami manusia. Adakalannya, duka itu sangat menyayat hati dan mungkin timbul perasaan antara lain terpukul, hampa, sedih, dan barangkali bahkan merasa bersalah atau marah. “Saya sangat kehilangan Ayah,” Kata Sulistyani, gadis kecil berusia 8 thn. Saya rindu pelukannya, candanya khasnya. Ia Ayah yang lembut. Ia senang memberi saya Uang saku ke sekolah setiap pagi sebelum Ayah berangkat ke Kantor. Saya tidak bisa melupakan Ayah. Apakah Anda juga pernah kehilangan orang tercinta, enta suami atau istri, anak, teman hidup, kakak atau adik, orang tua, saudara atau sahabat? Bagaimana Anda dapat mengatasi dukacita Anda?. Kebanyakan orang, tidak soal kebudayaan atau agama masing-masing, enggan membicarakan kematian. Untuk menghindari kesan yang tidak mengenakkan itu, beberapa bahasa menggunakan sejumlah ungkapan yang lebih halus. Dalam bahasa Indonesia, ketimbang mengatakan seseorang telah “mati”, orang akan mengatakan ia “sudah meninggal”, “berpulang”, atau “sudah mendahului kita”. Namun, ungkapan yang paling halus pun tidak bisa mengurangi kesedihan hebat yang dirasakan orang yang ditinggal mati oleh orang tercinta. Bagi beberapa orang, kepedihan itu begitu berat sehingga mereka tidak bisa menerima kenyataan yang terjadi. Jika Anda ditinggal mati oleh orang tercinta, boleh jadi Anda pun berjuang untuk menerima kenyataan itu. Mungkin Anda bahkan berupaya tampak tegar, padahal hati Anda hancur. Memang, cara berduka setiap orang berbeda, maka jika Anda tidak terlihat berduka, itu bukan berarti Anda tidak terlihat sedih. Namun, problem bisa timbul jika Anda merasa wajib menyembunyikan perasaan dihadapan orang lain–barangkali anggota keluarga yang sedang berduka. Rumah terasa sepi tanda “dia”. Kesepian barangkali adalah salah satu tantangan terbesar yang dihadapi mereka yang kehilangan orang tercinta. Wajarlah jika Anda merasa berat pulang kerumah setiap hari karena sadar bahwa orang yang kita cintai sudah tidak ada. Seringkali kita masuk ke kamar dan menangis sambil melihat fotonya dan mengenang hal-hal yang biasa dilakukan bersama-sama. Tidak soal Anda pedih karena kehilangan anggota keluarga atau teman karib, yakinlah bahwa Anda tidak sendirian. Namun, seperti yang kita lihat, banyak orang telah menemukan cara yang efektif untuk mengatasinya. Tetapi, bagaimana jika kepedihan Anda tak kunjung berakhir dan Anda menjadi letih karena putus asa? pengalaman Anda mirip dengan pengalaman Yakub, pria saleh yang kala diberitahu bahwa putranya Yusuf telah tewas, “tetap menolak untuk dihibur”. Kejadiaan 3735 Kalau begitu, langka praktis apa saja yang bisa Anda ambil agar tidak larut dalam dukacita? Berikut Tips yang bisa saya sering keteman-teman semua lewat pengalam pribadi saya. Perhatikan Diri Sendiri. Kadang, saya merasa sangat lelah dan sepertinya saya sudah tidak tahan lagi. Pernyataan menunjukkan bahwa kepedihan bisa sangat membebani secara fisik dan emosi. Maka Anda sebaiknya memperhatikan betul kesehatan Anda. Beristirahatlah yang cukup, dan santaplah makan yang bergizi. Memang Anda tidak berselera untuk makan, apalagi berbelanja atau memasak. Namun, jika Anda kurang makan Anda bisa gampang terkena penyakit, dan itu justru membuat Anda makin merana. Biarpun sedikit, berusahalah untuk makan secara teratur agar tetap sehat. Jika mungkin, lakukan sedikit gerak badan, meski hanya berjalan. Kegiatan fisik bisa membuat Anda keluar dari rumah. Selain itu, gerak badan yang memadai memicu pelepasan endorfin, senyawa kimia dalam otak yang bisa membuat Anda merasa lebih enak. Terimalah Bantuan dari Orang Lain. Dalam situasi seperti ini, saran dari teman-teman yang bertimbang rasa bisa sangat membantu Amsal 2511. Alkitab melukiskan teman sejati sebagai orang yang “dilahirkan untuk waktu kesesakan” Amsal 1717 Maka, jangan menyendiri karena berpikir bahwa Anda akan jadi bebab bagi orang lain. Sebaliknya, bergaul dengan orang lain bisa membantu Anda melewati masa-masa sulit ini. “Meski Sangat Sedih, Saya Mengambil Alkitab dan Membacanya, Walau Hanya Satu Ayat”–Sary. Jangan Menghapus Kenangan. Berusahalah untuk mengingat berbagai kenangan manis dengan orang tercinta, barangkali dengan membuka album foto. Memang, kenangan itu pada mulanya mungkin menyakitkan. Anda bisa membuat semacam catatan, didalanya anda bisa menulis tentang kenang-kenangan indah bahkan termasuk hal-hal yang ingin Anda katakan kepada orang yang Anda cintai seandainya ia masih menulis apa yang Anda rasakan, Anda bisa berfikir dengan lebih jernih. Menulis juga merupakan cara yang sehat untuk mengungkapkan berbagai perasaan Anda. Ada yang merasa menyimpan barang pribadi almarhum menghambat pemulihan. Yang lain menganggap sebaliknya. “Saya tetap menyimpan barang kepunyaan Ayah”–Sary. Itu cara yang baik untuk pulih!. Andalkan “Allah dalam Segala Penghiburan”. Berdoalah selalu, Doa bukan semacam tongkat penyangga emosi. Itu adalah komunikasi yang nyata dan vital dengan Allah segala penghiburan yang menghibur kita dalam semua kesengsaraan kita’ 2 Korintus 13;4. Firman Allah memberikan penghiburan terbesar bagi semua. Misalnya, saya terhibur dengan kata-kata Yesus kepada Marta setelah kematian Lazarus. Ia berkata kepadanya, Saudaramu akan bangkit’ Yohanes 11;23. Jangan Terus Terpuruk. Jangan merasa bersalah. Ini tidak berarti Anda menghianati orang tercinta dan melupakan dia. Faktanya, Anda takkan pernah melupakan orang yang Anda cintai. Pada saat-saat tertentu, kerinduan Anda mungkin terasa tak tertahankan, tetapi lambat-laun hal ini tidak akan begitu menyesakkan Anda lagi. Berbagai kenangan akan orang tercinta bisa menjadi sarana yang Anda butuhkan untuk terus menjalani kehidupan Anda. Setelah Ayah saya meninggal, kala itu saya bertekat harus menyelesaikan kuliah saya dan membantu Ibu untuk menjaga adik-adikku. Dan menjalani hidup seperti yang ia ajarkan kepada saya. Bagi Anda yang kehilangan orang tua, saya mau bilang Kita tidak akan pernah bisa pulih dari dukacita, tapi jangan terus terpuruk. Kita memang perlu meratap dan berduka, tapi jangan lupa bahwa kita harus menjalani hidup dengan sebaik-baiknya, dan jangan pernah lupa bahwa kita punya Allah yang Dasyat yang sanggup mengubah dukacita menjadi sukacita. Halleluya…! Saya bangga punya Ayah yang hebat dan luar biasa bagi kami anak-anaknya. Walaupun terasa 44 tahun 5 bulan 18 hari begitu singkat bagi kami, namun satu hal yang membuat saya tidak merasa putus asa karena Tuhan masih memberikan saya Ibu dan Adik-adik yang begitu tegar bahkan punya keluarga dan saudara yang menghibur dan mendoakan kami. Sekarang sudah ± 2 tahun lebih Ayah pergi. Penghargaan terbaik yang bisa saya berikan bagi Ayah sekarang ini, saya sudah bisa menyelesaikan Kulia Sarjana saya dengan predikat yang sangat memuaskan Cum Laude’. Terimakasih Ayah buat suarlelah dan tanggungjawabmu. Kasih, Kehangatan dan Karyamu akan selalu kukenang. “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah Firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejatera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” Yeremia 2911
Kej22:1 Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: “Abraham,” lalu sahutnya: “Ya, Tuhan.”. Kej 22:2 Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu
“Masih ada harapan untuk hari depanmu, demikianlah ï¬rman Tuhan anak-anak akan kembali ke daerah mereka”Yeremia 31 17. [ Kami melakukan seperti permohonannya, dan doa kami sama dengan doa yang engkau persembahkan. Kami tidak menerima bukti bahwa anak kami akan sembuh. la meninggal, dengan menaruh kepercayaannya penuh pada Yesus Juruselamat kita. Kematiannya merupakan suatu pukulan besar pada kami, tetapi adalah suatu kemenangan dalam kematian pun; karena hidupnya telah tersimpan dengan Kristus pada Allah. Sebelum kematian anak sulung saya, bayi saya sakit sampai mati. Kami berdoa, dan mengira bahwa Tuhan akan memanjangkan usia kekasih kami; tetapi kami menutup matanya dalam kematian, dan menidurkannya untuk beristirahat dalam Yesus, sampai sang Pemberi Hidup akan datang untuk membangkitkan kekasih-kekasih-Nya yang indah kepada kemuliaan yang baka. Kemudian suami saya, hamba Yesus Kristus yang setia, yang telah berdiri mendampingi saya selama tiga puluh enam tahun, telah diambil dari saya, dan saya ditinggalkan untuk bekerja sendirian. la tidur dalam Yesus. Saya tidak ada air mata untuk dicucurkan di atas kuburnya. Tetapi betapa saya sangat merindukannya! Betapa saya merindukan kata-kata nasihat dan hikmatnya! Betapa saya merindukan doanya bercampur dengan doaku meminta terang dan bimbingan, meminta hikmat untuk mengetahui bagaimana merencanakan dan menata pekerjaan itu! Tetapi Tuhan telah menjadi Penasihat saya, dan Tuhan akan memberimu kasih karunia untuk menanggung kesedihanmu. Engkau bertanya sehubungan dengan keselamatan anak kecilmu. Kata-kata Kristus adalah jawaban untukmu . . Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku, dan jangan kamu menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah” Lukas 1816. lngat akan nubuatan, “Beginilah firman Tuhan Dengar! Di Rama terdengar ratapan, tangisan yang pahit pedih Rahel menangisi anak-anaknya, ia tidak mau dihibur karena anak-anaknya . . . . Beginilah ï¬rman Tuhan Cegahlah suaramu dari menangis, dan matamu dari mencucurkan air mata, sebab untuk jerih payahmu ada ganjaran, demikianlah ï¬rman Tuhan; mereka akan kembali dari negeri musuh. Masih ada harapan untuk hari depanmu, demikianlah firman Tuhan anak-anak akan kembali ke daerah mereka” Yeremia 3115-17. Janji ini adalah untukmu. Engkau bisa mendapat penghiburan dan percaya pada Tuhan. Tuhan telah sering menunjukkan kepada saya bahwa banyak anak-anak kecil harus dibaringkan sebelum masa kesukaran. Kita akan melihat anak-anak kita kembali. Kita akan bertemu dengan mereka dan mengenal mereka di istana surga. Taruhlah kepercayaanmu pada Tuhan, dan janganlah 1899. 2 SM 258, 259
Bilangan27:3. TRIBUNMANADO.CO.ID, TOMOHON - Ditinggalkan orang tua karena kematian menimbulkan duka yang dalam. Di samping itu kehidupan masa lalu orang tua yang sulit dilupakan menjadi pergumulan tersendiri. Sebagai anak apapun kelebihan atau keburukan orang tua, anak tetaplah anak, ia tidak dapat dipisahkan dari orang tuanya.
Ilustrasi Alkitab dan salib. Foto UnsplashSetiap orang pasti pernah mengalami peristiwa ditinggalkan oleh orang terdekat. Hal ini tentunya bukan sesuatu yang menyenangkan. Karenanya, sebagai umat Kristen, ada baiknya untuk menekuni dan merenungi beberapa ayat Alkitab tentang kematian serta Cerminan Remaja 1 Allah yang Berkarya Buku Guru Pendidikan Agama Kristen Kelas 7 Sekolah Menengah Pertama oleh Yuprieli Hulu 2007 58, kematian adalah sebuah proses alami yang tidak hanya dialami oleh manusia saja, melainkan tumbuhan dan binatang juga pasti akan menghadapi kematian pada dapat terjadi kapan saja, di mana saja, tanpa memandang status, usia, dan lainnya. Penyebabnya pun bermacam-macam, entah karena sakit, kecelakaan, dan perlu diingat bahwa Tuhan yang mengizinkan kematian hadir dalam hidup manusia, pastilah memiliki rencana yang indah. Dalam ajaran iman Kristen, orang yang mati bukan berarti sebenar-benarnya mati, melainkan dia memperoleh kehidupan abadi bersama Bapa di bukanlah akhir dari segalanya, sehingga umat Kristen yang beriman tidak perlu takut ketika menghadapi kematian. Seorang Kristiani harus menghadapi kematian sebagai seorang Alkitab tentang Kematian dan PenghiburanIlustrasi membaca ayat Alkitab tentang kematian. Foto UnsplashApa yang Alkitab katakan tentang kematian? Ayat-ayat Alkitab tentang kematian biasanya merujuk pada penghakiman yang akan dihadapi pada saat kematian dan menentukan apakah manusia tersebut akan menghabiskan hidupnya kekal di surga atau di 101 Pertanyaan Seputar Kematian oleh Markus Suyadi 2021 30 disebutkan bahwa banyak ayat Alkitab yang menjamin bahwa setiap orang yang beriman kepada Yesus pasti masuk surga. "Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaanNya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan, dan mengkokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya.""Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah. Demikianlah hendaknya kamu memandangnya bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.""Aku ingat kepada hukum-hukum-Mu yang dari dahulu kala, ya Tuhan, maka terhiburlah aku.""Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku, demikian firman Allahmu.""Efraim, ayah mereka, berkabung berhari-hari lamanya, sehingga saudara-saudaranya datang untuk menghiburkan dia.""Kurangkah artinya bagimu penghiburan Allah, dan perkataan yang dengan lemah lembut ditujukan kepadamu?""Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya.""Sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.""Serahkanlah segala kekuatiranmu kepadaNya, sebab Ia yang memelihara kamu.""Kedua perempuan itu mengirim kabar kepada Yesus, 'Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit.' Ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata, 'Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan.'" "Seperti seseorang yang dihibur ibunya, demikianlah Aku ini akan menghibur kamu, kamu akan dihibur di Yerusalem.""Sebab tidak ada seorang pun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorangpun yang mati untuk dirinya sendiri. Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi, baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan. Sebab itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup.""Yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah.""Janganlah gelisah hatimu, percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempatKu, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada.""Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.""Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu? Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Namun syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita."Jawab Yesus "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepadaKu, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?"Dengan membaca dan merenungkan ayat Alkitab tentang kematian di atas, diharapkan umat Kristen dapat memperoleh bimbingan, kekuatan, dan semangat untuk menghadapi rasa kehilangan yang dialami. Selain itu, beberapa ayat Alkitab tersebut dapat menjadi renungan penghiburan kematian dan obat hati. Sehingga orang yang mengimaninya bisa kembali melanjutkan hidup meski ditinggalkan oleh orang yang disayangi.
Namundukacita dari dunia menghasilkan kematian. Ada satu macam dukacita yang membawa kepada keputus-asaan. Yakni dukacita yang dari dunia, itu membawa pada kematian. Itu tidak akan membawa kita ke mana-mana. Jadi bukan semua bentuk dukacita adalah dukacita yang membawa kebahagiaan. Hampir semua dukacita di dunia tidak membawa kebaikan apa pun.
.